Posted on Leave a comment

Makna Idul Fithri Bukan Kembali Menjadi Suci?

Pertanyaan :
Assalamu ‘alakum wr. wb.

Saya adalah pembaca setia situs www.rumahfiqih.com. Mohon izin untuk menyampaikan pertanyaan seputar ‘Idul Fitri’ yang sedang kita rayakan.

Apa sebenarnya makna kata Idul Fitri? Benarkah artinya adalah kembali kepada fitrah atau kembali kepada kesucian? Apakah Ied itu berarti kembali? Apakah kata fitri itu sama dengan fitrah yang artinya suci?

Mohon penjelasan dari ustadz. Dan sebelumnya saya ucapkan terima kasih.

Wassalam

Jawaban :
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Makna lafadz Idul Fithri memang bukan kembali menjadi suci. Meskipun memang ada sedikit kemiripan dari dua kata itu, namun sebenarnya keduanya punya makna yang lain.

Justru karena kemiripan inilah makanya banyak orang silap dan keliru memaknainya. Bahkan para reposter televisi nasional kita pun latah ikut-ikutan keliru juga. Malah tidak sedikit para ustadz dan penceramah yang ikut-ikutan menyebarkan kekeliruan massal ini ini tanpa tahu ilmu dan sumbernya.

Makna ‘Ied’ Bukan Kembali

Kata ‘Ied’ (عيد) dalam Iedul Fithri sama sekali bukan kembali. Dalam bahasa Arab, Ied (عيد) berarti hari raya. Bentuk jamaknya a’yad (أعياد). Maka setiap agama punya Ied atau hari raya sendiri-sendiri.

Dalam bahasa Arab, hari Natal yang dirayakan umat Nasrani disebut dengan Iedul Milad (عيد الميلاد), yang artinya hari raya kelahiran. Maksudnya kelahiran Nabi Isa alaihissalam. Mereka merayakan hari itu sebagai hari raya resmi agama mereka.

Hari-hari kemerdekaan suatu negeri dalam bahasa Arab sering disebut dengan Iedul Wathan (عيد الوطن). Memang tidak harus selalu hari kemerdekaan, tetapi maksudnya itu adalah hari besar alias hari raya untuk negara tersebut.

Lalu kenapa banyak orang mengartikan Ied sebagai ‘kembali’?

Nah itulah masalahnya. Banyak orang kurang mengerti bahasa Arab, sehingga bentuk sharf dari suatu kata sering terpelintir dan terbolak-balik tidak karuan.

Dalam bahasa Arab, kata kembali adalah ‘aada – ya’uudu -‘audatan (عاد – يعود – عودة). Memang sekilas hurufnya rada mirip, tetapi tentu saja berbeda jauh maknanya dari ‘ied. Jadi kalau maksudnya mau bilang kembali, jangan sebut ‘ied tetapi sebutlah ‘audah.

Sayangnya, banyak ustadz, kiyai dan penceramah yang rada gegabah dalam masalah ini. Sudah salah dan keliru, bicaranya di layar kaca pula, ditonton jutaan pasang mata orang awam. Maka kekeliruan itu pun terjadi secara ‘masif, terstruktur dan sistematis’.

Makna Kata Fithri Juga Bukan Suci

Dalam bahasa Arab kita mengenal dua kata yang nyaris mirip tetapi berbeda, yaitu fithrah (فطرة) dan fithr (فطر).

1. Makna Fithrah

Yang pertama adalah kata fithrah (فطرة). Jumlah hurufnya ada empat yaitu fa’, tha’, ra’ dan ta’ marbuthah. Umumnya fithrah diartikan oleh para ulama sebagai kesucian atau juga bermakna agama Islam. Seperti hadits berikut ini :

عَشْرٌ مِنَ الْفِطْرَةِ قَصُّ الشَّارِبِ وَإِعْفَاءُ اللِّحْيَةِ وَالسِّوَاكُ وَاسْتِنْشَاقُ الْمَاءِ وَقَصُّ الأْظْفَارِ وَغَسْل الْبَرَاجِمِ وَنَتْفُ الإْبْطِ وَحَلْقُ الْعَانَةِ وَانْتِقَاصُ الْمَاءِ
Ada sepuluh hal dari fitrah (kesucian), yaitu memangkas kumis, memelihara jenggot, bersiwak, istinsyaq (menghirup air ke dalam hidung), potong kuku, membersihkan ruas jari-jemari, mencabut bulu ketiak, mencukup bulu kemaluan dan istinjak (cebok) dengan air. ” (HR. Muslim).

Dan juga bermakna agama Islam, sebagimana hadits berikut ini :

مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلاَّ وُلِدَ عَلىَ الفِطْرَةِ أَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِهِ
Tidak ada kelahiran bayi kecuali lahir dalam keadaan fitrah (muslim). Lalu kedua orang tuanya yang akan menjadikannya yahudi, nasrani atau majusi. (HR. Muslim)

2. Makna Fithr

Sedangkan kata fithr (فطر) sangat berbeda maknnya dari kata fithrah. Memang sekilas keduanya punya kemiripan. Tetapi coba perhatikan baik-baik, ternyata kata fithr itu hurufnya cuma ada tiga saja, yaitu fa’, tha’ dan ra’, tanpa tambahan huruf ta’ marbuthah di belakangnya.

Apakah perbedaan huruf ini mempengaruhi makna?

Jawabnya tentu saja mempengaruhi makna. Keduanya punya makna yang berbeda dan amat jauh perbedaannya.

Dalam bahasa Arab, kata fitrh (فطر) bermakna makan atau makanan dan bukan suci ataupun keislaman. Pembentukan kata dasar ini bisa menjadi makan pagi, yaitu fathur (فطور), dan juga bermakna berbuka puasa, yaitu ifthar (إفطار).

Disinilah banyak orang yang rancu dan kurang bisa membedakan makna. Dikiranya fithr itu sama saja dengan fithrah. Sehingga dengan ceroboh diartinya seenaknya menjadi kembali kepada fitrah.

Coba perhatikan, betapa banyak kita menyaksikan kekeliruan demi kekeliruan yang dipajang dengan bangga, padahal keliru. Baliho yang dipasang, kartu ucapan selamat, bahkan SMS yang dikirimkan, termasuk televisi nasional ramai-ramai menganut kekeliruan massal ini, tanpa pernah teliti dan bertanya kepada ahlinya.

Makna Idul Fithr

Kalau kita jujur dengan istilah aslinya, sesungguhnya kata ‘Idul Fithri’ itu bukan bermakna kembali kepada kesucian. Tetapi yang benar adalah Hari Raya Makanan.

Dan hari raya Islam yang satunya lagi adalah Idul Adha, tentu maknanya bukan kembali kepada Adha, sebab artinya akan jadi kacau balau. Masak kembali kepada hewan qurban? Idul Adha artinya adalah hari raya qurban (hewan sembelihan).

Bahwa setelah sebulan berpuasa kita harus kembali menjadi suci, mencusikan hati, mensucikan pikiran dan mensucikan semuanya, tentu memang harus. Cuma, jangan kemudian main paksa istilah yang kurang tepat. Mentang-mentang kita harus kembali suci, lalu ungkapan ‘Idul Fithri’ dipaksakan berubah makna menjadi ‘kembali suci’.

Hari Raya Makan?

Ya memang sejatinya pada hari itu umat Islam diwajibkan untuk makan dan haram untuk berpuasa. Berpuasa para tanggal 1 Syawwal justru haram dan berdosa bisa dilakukan.

Dan sunnahnya, makan yang menjadi ritual itu dilakukan justru sebelum kita melaksanakan shalat Idul Fithri. Lihat tulisan sebelumnya : Makan Dulu Sebelum Shalat Iedul Fithri

Dan oleh karena itulah kita mengenal syariat memberi zakat al-fithr, yang maknanya adalah zakat dalam bentuk makanan. Tujuannya sudah jelas, agar tidak ada yang tersisa dari orang miskin yang berpuasa hari itu dengan alasan tidak punya makanan. Dengan adanya zakat al-fithr, maka semua orang bisa makan di hari itu.
Dan hari raya umat Islam disebut dengan ‘Iedul Fithr, yang secara harfiyah bermakna hari raya untuk makan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sumber:http://www.rumahfiqih.com/x.php?id=1358360047

Posted on Leave a comment

Khalifah Marwan bin Hakam dan Pohon Terkutuk dalam Qur’an

Wafatnya Khalifah Muawiyah II yang hanya berkuasa kurang dari dua bulan membuat masa depan Dinasti Abu Sufyan menjadi suram. Maka, tampillah Marwan bin Hakam dan keturunannya, sehingga gabungan antara dinasti anak cucu Abu Sufyan dan anak cucu Hakam disebut Dinasti Umayyah, yang diambil dari nama klan mereka.

Marwan bin Hakam adalah sosok kontroversial. Ayahnya, Hakam bin Abi Ash, terhitung sebagai sahabat Nabi yang masuk Islam setelah Fathu Makkah. Ada riwayat dari Siti Aisyah bahwa Nabi Muhammad telah melaknat Hakam bin Abi Ash dan keturunannya.

Nabi juga mengusir Hakam keluar Madinah karena tingkah lakunya yang menyakitkan Nabi, meski telah masuk Islam. Namun, pada masa Khalifah Utsman, Hakam yang merupakan paman sang khalifah, namanya direhabilitasi dan kembali ke Madinah. Bahkan Khalifah Utsman mengangkat Marwan bin Hakam, sepupunya, sebagai sekretaris.

Imam Suyuthi mencatat bahwa Marwan diriwayatkan senang mencaci maki Sayyidina Hasan dan keluarga Nabi lainnya. Saat Muawiyah I berkuasa, Marwan mendapat posisi penting, dan begitu seterusnya sampai Abdullah bin Zubair mengklaim sebagai Khalifah. Marwan memandang suram masa depan Dinasti Abu Sufyan karena Khalifah Muawiyah II, pengganti Yazid, seorang yang masih muda, lemah, dan sakit-sakitan.

Imam Thabari mencatat bagaimana Marwan bersiap diri untuk pindah jalur politik dengan membai’at Abdullah bin Zubair sebagai khalifah di Mekkah. Namun, itu urung dilakukan karena sejumlah kabilah dari klan Umayyah mendatangi Marwan dan memintanya naik sebagai khalifah menggantikan Muawiyah II dan melawan Abdullah bin Zubair. Marwan pun bersedia menerima bai’at sebagai khalifah penerus Muawiyah II.

Sekali lagi kita saksikan panggung sejarah khilafah yang penuh dengan intrik politik. Urusan kekuasaan hanya diputuskan lewat kesepakatan pihak tertentu saja. Umat sama sekali tidka dilibatkan dalam proses pemilihan khalifah. Siapa yang menerima bai’at, apa kualifikasinya, dan bagaimana prosedurnya sangat tidak jelas. Semua tergantung kekuasaan militer dan pengaruh keluarga yang mereka miliki yang dapat memaksa umat di wilayah tertentu mendukung hasil bai’at tersebut.

Akibat tidak ada aturan nash yang jelas soal ini, maka para ulama berdebat, seperti direkam dengan baik oleh al-Mawardi, M. Abu Faris, dan Wahbah al-Zuhayli, dalam kitab mereka masing-masing: berapa orang yang dibutuhkan untuk membai’at seorang khalifah? Ada yang bilang lima, dengan mengacu pada Khalifah Abu Bakr yang dipilih oleh 5 orang dalam peristiwa Saqifah.

Ada yang bilang cukup tiga orang saja yang membai’at, karena dianalogikan dengan aqad nikah di mana ada 1 wali dan 2 saksi. Bahkan satu saja cukup, kata ulama yang lain, karena Sayyidina Ali awalnya dibai’at oleh Abbas saja. Kalau aturan ini sekarang hendak diberlakukan untuk dunia Islam yang dihuni lebih dari satu miliar Muslim tentu menjadi problematis.

Mereka yang menyangka politik Islam zaman khilafah itu suci seperti al-Qur’an dan Hadits akan terkejut membaca literatur sejarah yang ditulis apa adanya oleh para ulama klasik. Politisasi ayat dan hadits jiga terjadi sejak awal. Saya sudah menyebutkan soal riwayat Aisyah di atas. Lengkapnya seperti ini:

Dari Abdullah. Ia berkata: “Aku sedang berada di masjid ketika Marwan berkhutbah. Ia berkata: Sesungguhnya Allah SWT telah memberi kepada Amirul Mukminin, Muawiyah, pandangan yang baik tentang Yazid. Ia ingin mengangkatnya sebagai khalifah sebagaimana Abu Bakar dan Umar pernah melakukannya. Berkata Abdurrahman bin Abu Bakar: ‘Sungguh, Abu Bakar, demi Allah, tidak menyerahkannya kepada anaknya atau salah seorang di antara keluarganya. Sedangkan Muawiyah melakukannya karena sayang dan ingin memberikan anugrah kepada anaknya.”

Marwan yang tidak suka dengan reaksi tersebut berkata kepada Abdurrahman: Bukankah kamu yang dimaksud al-Quran sebagai “orang yang berkata kepada orangtuanya ‘cis bagi kalian’ (QS. Al-Ahqaf: 17)”. Abdurrahman membalas berkata: “Bukankah kamu anak orang terkutuk. Rasulullah saw melaknat bapakmu.”

Siti Aisyah yang mendengar perdebatan Marwan dan Abdurrahman bin Abu Bakar (saudara lelakinya Aisyah) berkata: “Hai Marwan. Demi Allah, ayat itu tidak turun kepada Abdurrahman. Tapi ayat yang ini justru turun untuk ayahmu: “Janganlah kamu menaati setiap tukang sumpah (palsu) yang hina, yang banyak mencela, yang ke sana kemari menyebar fitnah, yang melarang perbuatan baik, melampaui batas dan banyak berbuat dosa.” (Al-Qalam 10-12). Siti Aisyah melanjutkan, “Rasulullah SAW pernah melaknat ayah Marwan ketika Marwan berada dalam sulbinya. Engkau adalah pecahan laknat Allah”.

Sejumlah kitab tafsir menceritakan kisah di atas dengan berbagai redaksi, seperti Tafsir al-Qurthubi, Tafsir al-Razi, Tafsir Ibn Katsir, dan Tafsir al-Durr al-Mantsur. Semua kitab tafsir yang saya rujuk ini adalah dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Masalah akan tambah rumit kalau kota merujuk tafsir kelompok Syi’ah yang haluan politiknya jelas berbeda dengan kelompok Sunni.

Yang mencengangkan bagi kita bagaimana kaum salaf terdahulu seperti Marwan, Abdurrahman, dan Siti Aisyah menggunakan ayat dan hadits untuk saling membela posisi mereka dan kemudian mencela lawan politiknya. Bahkan sejumlah riwayat yang mencela keluarga Marwan ini berasal dari Abdullah bin Zubair, yang nota bene merupakan lawan politik Marwan.

Saya tidak ingin mengatakan mereka telah berbohong atau meragukan kapasitas personal kaum salaf tersebut. Tapi yang jelas kita harus kritis membaca riwayat-riwayat seputar peristiwa politik ini yang mencari justifikasi ke belakang pada masa Nabi.

Saya ingin menyebutkan satu contoh lagi, yaitu penafsiran tentang “pohon yang terkutuk” pada surat al-Isra ayat 60. Sebagian mufassir mengatakan ini pohon zaqqum di neraka. Namun ada yang menyebutkan bahwa yang dimaksud pohon zaqqum ini adalah Dinasti Umayyah. Sekali lagi, pada kasus ini, saya membatasi diri hanya mengutip kitab tafsir dari para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Tafsir Ruhul Ma’ani dari Imam al-Alusi mencantumkan riwayat Ibnu Murdawaih bahwa suatu saat Aisyah berkata kepada Marwan bin Hakam: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda pada ayah dan kakekmu: “Kalian adalah pohon yang terkutuk dalam al-Qur’an.” Tafsir Ibn Katsir mengatakan riwayat semacam ini lemah dan aneh.

Tafsir al-Thabari mengabarkan ada riwayat bahwa Rasulullah SAW melihat “dinasti fulan” melompat-lompat di atas mimbar beliau bagaikan kera, perbuatan mereka itu membuat beliau marah sehingga sejak itu sampai wafat beliau tidak pernah berkumpul bersama mereka sambil tertawa.

Imam al-Thabari mengganti istilah Umayyah dengan fulan. Namun demikian, beliau juga tidak menerima keabsahan riwayat ini. Ibn Katsir mengomentari bahwa riwayat “dinasti fulan” ini tak bisa diterima karena ada rawi yang kapasitasnya diragukan, yaitu yang bernama Muhammad bin Hasan bin Zubalah.

Tafsir al-Razi dan Tafsir al-Qurtubi juga mencatat adanya riwayat dari Ibnu Abbas yang menyebutkan bahwa pohon yang terkutuk adalah Dinasti Umayyah, yakni Hakam bin Ash. Namun kedua kitab tafsir ini mempertanyakan validitas riwayat ini karena Nabi berkhutbah di Madinah, sementara surat al-Isra itu turunnya di Mekkah. Gak nyambung kira-kira gitu, deh.

Ya, itulah masalahnya memang. Seringkali politisasi ayat dan hadis untuk melegitimasi kekuasaan atau sebaliknya, mendelegitimasi, lawan-lawan politik seringkali tidak nyambung satu sama lain. Namun imajinasi kekuasaan membuat seolah menjadi tersambung antara peristiwa perebutan politik dengan berbagai riwayat yang ada.

Kalaupun Marwan bin Hakam sosok yang memang dianggap cacat moral sejak lahir karena bapaknya dilaknat dan diusir Nabi, atau sosok yang dianggap melanggar syariat Islam, toh Imam Bukhari meriwayatkan sekitar 20 hadis dari Marwan. Kita tahu bagaimana ketatnya persyaratan Imam Bukhari dalam menerima perawi. Ini saja menambah daftar kebingungan kita: bagaimana seorang yang dianggap tsiqah dan adil dalam meriwayatkan hadis, namun sosoknya tampil sebagai politisi “kotor” dalam panggung sejarah kekuasaan?

Misalnya, Imam Suyuthi boleh jadi menerima hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Marwan dalam Shahih Bukhari, tapi Imam Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa tidak mengakui Marwan sebagai khalifah yang sah.

Khalifah Marwan bin Hakam hanya berkuasa kurang dari satu tahun. Dia berhasil merebut wilayah Syam dan Mesir dari tangan pendukung Abdullah bin Zubair. Saat Marwan wafat, Abdullah bin Zubair masih berkuasa di Mekkah. Marwan kemudian digantikan oleh putranya, Abdul Malik.

geotimes.co.id
By
Nadirsyah Hosen –
Friday, 9 June 2017

Posted on Leave a comment

Menangislah…!!

 mata-menangis

mata-menangis/ilustrasi

Kesempurnaan penciptaan manusia sebagai suatu kelebihan yang diberikan Allah, bukanlah menjadi suatu hal yang membuat manusia tersebut puas atas apa yang telah diberikan Allah tersebut. Sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk yang tak pernah puas (mungkin ini memang kodratnya kali ya) manusia sering mendambakan hal-hal yang terkadang di luar kemampuannya, dan saat hal-hal yang diinginkan tersebut tidak menjadi kenyataan dan malah jadi kebalikan, seringkali manusia merasa ini adalah kegagalan dan sesuatu yang amat menyedihkan… Maka tak ayal, manusia pun menangis…

Tak mengapa, menangislah!!!

Kenapa harus merasa cengeng saat kita meneteskan air mata. Toh sejak kecil kita sudah terbiasa menangis… Saat kita masih bayi, menangis adalah cara terbaik untuk memberitahu bahwa kita lapar, haus atau sekadar minta digantikan popok… Kita juga terbiasa menangis jika orang tua kita tak membelikan mainan yang sangat diinginkan… Menangis juga kita lakukan saat uang jajan kita kurang dari biasanya. Dan masih banyak lagi airmata mengalir, saat gagal ujian mungkin, atau saat ditinggal orang tercinta…

Sekarang, menangis mungkin juga cara terbaik untuk memberi tahu kepada Allah, bahwa kita begitu lemah dan akan sangat bergantung kepada-Nya…

Tak apa, menangislah!!!

Air mata itu mungkin saja diciptakan untuk menyadarkan manusia agar senantiasa mengingat Allah… Titik-titik air bening dari mata itu bisa jadi adalah teguran Allah terhadap riak kenistaan yang kerap mewarnai kehidupan ini. Seperti Allah menurunkan hujan dari langit, untuk mengairi bumi dari kekeringan. Seperti itu juga tangis manusia, akan membasahi kekeringan hati dan melelehkan kerak kegersangan agar senantiasa menghadirkan kembali wajah Allah yang mengiringi setiap langkah ini selanjutnya.

Tak perlu sungkan, menangislah… mungkin airmata itu akan mampu merontokkan bongkah-bongkah keangkuhan dalam dada ini sehingga semakin menyadarkan kita bahwa hanya Allah-lah yang punya segalanya…

Biarlah airmata itu terus menetes, toh dengan itu hati ini akan semakin basah dengan ketawadhuan, qanaah, juga menumbuhkan cinta terhadap sesama…

Mungkin airmata itu akan semakin membanjiri setiap relung hati ini dengan kesadaran akan kembali kita kepada-nya…

Dan semoga airmata itu akan membersihkan debu-debu pengingkaran yang menyesaki kelopak mata kita ketika seringkali kita lupa bersyukur atas setiap nikmat-nya…

Ada saatnya kita tidak bisa menahan air mata, karenanya biarkan saja ia mengalir…

Tak perlu diredam dan tak usah disangkal…

Meskipun tidak mengubah keadaan, meskipun sama sekali tidak menebus kesalahan, tapi menangis dapat meredakan sakit … 🙂

Novia lestari
Penulis:Novia lestari

Sumber:dakwatuna.com

Posted on Leave a comment

Kisah Raja yang Ditolak

damaskus-suriah-pusat-daulah-umayyah-ilustrasiDamaskus, Suriah, pusat Daulah Umayyah (ilustrasi).

Suatu hari, Amirul Mukminin Abdul Malik bin Marwan tiba-tiba terbangun dari tidur siangnya dan tergesa. Ia segera memanggil penjaga, “Wahai Maisarah.

Penjaga sultan yang tegap dan gagah pun segera datang, “Ada apa Amirul mukminin?” tanyanya.

“Pergilah ke Masjid Nabawi dan undanglah kemari salah seorang ulama di sana untuk memberikan peringatan di istana,” pinta Ibn Marwan.

Maisarah pun segera ke masjid. Namun di sana hanya ada seorang syekh yang usianya telah sepuh. Namun auranya penuh wibawa dan karismatik. Orang-orang menghormatinya karena ilmunya yang tinggi.

Melihatnya, Maisarah pun mendekat majelis sang syekh. Ia menunjukkan jarinya memberikan tanda kepada syekh. Namun Syekh tak menghiraukannya. Karena tak dipedulikan, Maisarah akhirnya menghampiri sang syekh. “Tidakkah Anda melihat saya menunjuk kepada Anda?” ujarnya.

Sang syekh pun menjawab, “Anda menunjuk saya?”

Maisarah berkata, “Ya”

Syekh pun kembali bertanya, “Apa keperluan Anda?”

Maisarah menjawab, “Amirul mukminin memintaku untuk pergi ke Masjid Nabawi dan membawa seorang ulama untuk mengajarkan hadis untuknya.”

Syekh itu menjawab ringan, “Bukan saya orang yang beliau maksud.”

“Tapi amirul mukminin menginginkan seorang ulama untuk berbincang dengannya,” kata Maisarah.

Namun syekh hanya menjawab, “Barangsiapa yang menghendaki sesuatu, maka seharusnya dialah yang datang. Masjid ini memiliki ruangan yang luas. Jika beliau iingin, datanglah. Selain itu, hadts lebih layak untuk didatangi, namun beliau enggan mendatanginya,” kata syekh.

Maisarah pun kembali ke istana tanpa membawa seorang ulama. Ia menemui amirull mukminin dan mengisahkan pertemuannya dengan seorang syaikh sepuh tadi. Mendengar kisah Maisarah, Ibn Marwan pun menebak, “Pasti dia adalah Syekh Sa’id bin Musayyab,” tebakan sutan benar. Amirul mukminin pun meninggalkan tempatnya dan kembali ke kamar.

Ketika sang sultan telah masuk, anak-anaknya pun saling membicarakan kisah Maisarah yang mereka pun mendengarnya. Putra bungsu sultan pun geram. “Siapakah orang yang berani menentang Amirul Mukminin dan menolaknya. Padahal dunia tunduk padanya, raja-raja Romawi pun gentar karena wibawanya?” ujar si bungsu heran.

Kakaknya pun menimpali, “Dia adalah syekh yang putrinya pernah dipinang oleh ayah untuk saudara kita, Al Walid. Namun syekh menolak pinangan itu,” ujarnya.

Si bungsu makin terheran-heran. “Benarkah itu? Dia menolak menikahkan putrinya dengan putra mahkota?” ujarnya.

Nmaun sang kakak tak tahu bagaimana peristiwa penolakan itu terjadi. Lalu seorang pengasuh putra sultan pun berkata bahwa ia mengetahui kisah itu. “Sekiranya diizinkan, saya akan menceritakan seluruh kisah itu,” ujarnya. Ia pun kemudian mengisahkannya kepada kedua putra sultan.

“Gadis putri sang syekh telah menikah dengan seorang pemuda di kampung saya bernama Abu Wada’ah. Kebetulan dia adalah tetangga dekat saya. Pernikahannya menjadi suatu kisah yang sangat romantis seperti yang diceritakan Abu Wada’ah sendiri kepada saya,” ujar sang pengasuh.

Abu Wa’dah merupakan salah seorang murid Syekh Sa’id bin Musayyab. Ia tak pernah absen di setiap majelis beliau. Hingga suatu hari, ia tak menghadiri majelis selama beberapa hari. Tak ada kabar datang darinya.

Lalu ketika Abu Wa’dah telah mendatangi majelis, ia segera mendapat sapaan dari syekh. “Kemana saja kau wahai Abu Wada’ah?” tanya syaikh.

“Saya sibuk mengurus jenazah istri saya yang meninggal,” jawabnya.

Syekh pun berkata, “Jika kau memberi kabar, pastilah aku akan takziyah dan membantu kesulitamu,” kata syaikh.

Abu Wada’ah pun merasa berterima kasih atas kebaikan syaikh. Saat majelis telah usai, syaikh kembali menyapanya. Ia meminta Abu Wada’ah duduk sejenak untuk berbincang.

“Apa kau tak berfikir untuk menikah lagi?” tanya syaikh.

Mendengarnya tentu Abu Wada’ah terkejut. ‘Semoga Allah merahmati Anda wahai syaikh. Siapa yang mau menikahkan putrinya dengan saya sementara saya ini hanyalah pemuda yatim dan hidup dalam kondisi fakir. Aku hanya memiliki harta dua atau tiga dirham,” ujarnya.

Namun jawaban syaikh sangat mengejutkan, “Aku akan menikahkanmu dengan putriku,” ujarnya.

Abu Wada’ah tentu saja heran bukan kepalang. Ia sangat kaget mendengarnya. “Anda wahai syaikh? Anda berkenan menikahkan putri anda denga saya sementara anda tahu betul kondisi saya?” tanyanya tak percaya.

Namun syekh menjawab santai, “Ya benar. Jika ada seorang datang dan saya menyukai agama dan akhlaknya, maka saya akan menikahkan putri saya dengannya. Dan kau adalah orangyang saya sukai agama dan akhlaknya,’ jawab syekh.

Putri syekh pun kemudian menikah dengan Abu Wada’ah. Dalam membangun rumah tangga, syaikh selalu siap membantu rumah tangga putri dan murid kesayangannya.

Mendengar kisah Abu Wada’ah itu, para putra sultan pun terkejut. “Orang itu sungguh mengherankan,” ujar si bungsu, tak habis pikir dengan sikap syekh Sa’id.

Namun si pengasuh yang bercerita menimpali, “Apa yang mengherankan wahai tuan? Syekh memang manusia yang menjadikan dunia hanya sebagai kendaraan dan perbekalan untuk akhirat. Demi Allah, bukan karena beliau tak suka putra Amirul Mukminin. Hanya saja, syekh memandang A Walid tak sebandign dengan putrinya. Syekh hanya khawatir putrinya akan tergoda dengan fitnah dunia,” ujarnya.

Si pengasuh pun melanjutan kisahnya, bahwa syekh pernah ditanya mengapa menolak pinangan amirul mukminin dan justru memilih menikahkan putri dengan seorang awam yang miskin.

Dengan mantap syekh menjawab, “Putriku adalah amanat di leherku, maka kupilihkan apa yang sesuai untuk kebaikan dan keselamatan dirinya. Bagaimana pendapat kalian jika ia pindah ke istana Bani Umayyah lalu bergelimang harta? Bagaimana keteguhan agamanya nanti?” jawab Syekh.

Sumber:http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/13/10/20/muxwkk-kisah-raja-yang-ditolak